Fungsi PR sudah berkembang sangat jauh. PR Tidak lagi hanya sekadar membuat press release, media engagement, tapi memengaruhi orang lain.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Pernyataan ini disampaikan Marianne Admardatine, Chief Growth Officer Ogilvy & Mather Indonesia, di hadapan para praktisi PR di acara seminar PR bertema “Strategi PR yang Efektif untuk Meningkatkan Citra Perusahaan di Era Disruptif Ekonomi” yang berlangsung di Jakarta, Jumat (29/9/2017). “The world is changing,” kata perempuan blasteran Ceko dan Malang, Indonesia itu membuka percakapan.
Ketika dunia berubah, ia melanjutkan, PR harus bertanya kepada dirinya sendiri: apa fungsi kita? berubahnya dimana? bagaimana PR bisa bertahan hidup di dalam dunia yang berisik, banyak pilihan, serba instant dan maunya cepat?
Saat ini, dunia memasuki era of relevance. Era di mana “Jika yang kamu lakukan tidak ada relevansinya dengan saya, maka saya tidak mau mendengarkan”. Sebenarnya, kata Marianne, di era ini peran PR justru menjadi penting. Karena PR dituntut mampu memengaruhi orang lain atas setiap keputusan yang mereka buat. “Di era of influence, brand bisa menjadi penting jika kita mampu masuk memenangkan hati konsumen dan memengaruhi keputusan mereka untuk memilih brand atau inisiatif kita,” imbuh ibu dari tiga anak itu.
Tantangannya sekarang, PR ada di masa ketika orang lain sibuk dengan dirinya sendiri (narcissus) dan tidak percaya dengan korporasi, pemerintah, termasuk kita (cynical). Kuncinya, kata Marianne, ada pada kreativitas PR dalam mengomunikasikan suatu hal. Perubahannya, terletak pada sisi storytelling—cerita yang dapat memengaruhi banyak orang. “Kita tidak lagi bicara mengenai bagaimana membuat press release dan menuangkannya dalam pesan kunci,” ujarnya.
Dipilih
Untuk itu, ia melanjutkan, PR saat ini harus mampu membuat konten yang “dipilih” (chosen), bukan “ditoleransi” (tolerated). Contoh, jika kita hanya menggulirkan status-status yang memenuhi dinding Facebook ke bawah, itu namanya tolerated. Namun, ketika kita sendiri yang mencari konten itu dan tidak mau ketinggalan setiap jengkal pun informasi terbaru, hal itu dinamakan chosen. Nah, konten yang chosen itulah yang harus dibuat oleh PR. “PR adalah influencer. Kesannya seperti Instagram buzzer. Tidak, di era of influence, kita harus masuk menjadi influencer,” katanya.
Selanjutnya, lihat semua kanal yang ada, rangkul semuanya. “Kalau dulu, PR, advertising, marketing berdiri sendiri, sekarang tidak lagi. Semuanya menjadi satu kesatuan, tapi PR yang jadi ‘supirnya’,” ujar Marianne memberi istilah.
Salah satu bentuk PR sebagai influencer dapat dilihat dari sukses atau tidaknya mereka mengangkat program CSR. “Suatu program PR dinyatakan berhasil apabila PR mampu menuangkannya ke dalam sebuah cerita yang kemudian mendapatkan simpati, bahkan menggerakkan orang lain untuk ikut berkontribusi,” ujarnya.
Sementara menurut founder and consultant Cultivative Brands Anke Dwi Saputro, perlu ditunjang oleh kekuatan konten jika kita ingin menularkan virus kepada banyak orang. “Ketika membuat status di Facebook atau Instagram ads tapi tidak bisa menciptakan konten yang bagus, maka konten itu hanya advertise,” katanya. Ia lantas mengajak peserta yang hadir hari itu untuk mulai merancang konten yang tidak biasa, memberikan informasi luar biasa, memiliki empati atau selera humor tinggi, jika perlu, disertai sensational incentive. Selanjutnya, fokus pada target audiens yang spesifik. “Untuk dapat memengaruhi dan menjadi viral, sebaiknya kita bukan fokus pada berita yang ingin disebarkan. Tapi, fokus untuk dapat memberikan informasi yang ingin orang dengar, baca dan sebarkan,” tutupnya.
Selain kedua pembicara tadi, turut hadir pemateri lain seperti Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas, Manager Communication and Event Asuransi Astra Laurentius Iwan Pranoto, Head of PR Tofan Mahdi, Strategic Partnership Division of PERHUMAS Dian Anggraeni Umar. rtn