“Karyawan adalah aset,” begitu prinsip Shanti. Dalam menjalankan prinsipnya, ia selalu bersikap terbuka, mendengarkan segala masukan dan melibatkan karyawan di setiap kegiatan perusahaan.
Shanti Radianti Witoelar
Head of Departement Internal Communication Total E & P Indonesie
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Sosoknya yang kalem dan hangat membuat siapa pun nyaman berada di dekatnya. Selama 23 tahun mengabdi di perusahaan asal Perancis yang bergerak di bidang migas tersebut, Shanti Radianti Witoelar lebih banyak menghabiskan waktunya di bidang human resources (HR). Baru tahun 2013, perempuan lulusan Jurusan Psikologi Universitas Indonesia (UI) ini didapuk sebagai Head of Departement Internal Communication di bawah Divisi Corporate Communication Total E&P Indonesie.
Ia bertugas menjadi jembatan antara karyawan dengan manajemen. Bersama keenam anggota timnya, ibu dari tiga anak itu juga berkewajiban membangun engagement dengan karyawan. Salah satu caranya, membangun rasa memiliki di antara karyawan. Untuk itu, perempuan asal Garut itu pun selalu berupaya melibatkan karyawan di tiap event yang dilakukan perusahaan. Contoh, saat perusahaan mengampanyekan cost efficiency culture.
Program yang telah dilaksanakan sejak 2014 dan merupakan bentuk komitmen perusahaan terhadap lingkungan ini bertujuan mengajak karyawan untuk mengubah perilaku. Upaya ini dibuktikan dengan cara berbagi cerita tentang langkah-langkah efisiensi yang telah dilakukan divisinya. “Kami membuat poster menarik yang disampaikan melalui e-mail blast. Kami juga mengunggah video yang memuat pesan perusahaan dan testimoni karyawan,” kata Shanti. “Biasanya, kalau videonya berisi teman-teman mereka sendiri, mereka mau nonton,” imbuh perempuan berhijab itu seraya menambahkan cara serupa juga dilakukan saat perusahaan mengajak karyawan agar mengedepankan prinsip keselamatan dalam bekerja dan kehidupan sehari-hari.
Upaya membangun engagement itu, kata Shanti, didasari akan prinsip yang selama ini dia pegang teguh: karyawan adalah aset. Mereka berhak tahu dan mendapatkan informasi terkini dan benar seputar kondisi perusahaan. Dalam menjalankan perannya itu, ia bekerja sama dengan HR dan Departement External Communication. “Desas-desus di bawah akan ditangkap lebih dulu oleh HR. Kami tidak punya kuasa langsung untuk menenangkan, tapi kami bisa menangkap isunya, menyampaikannya ke manajamen, lalu membuat communication plan yang harus disiapkan, serta obyektif dan target yang harus dicapai,” beber Shanti.
Beruntung, sambungnya, baik CEO maupun general manager Total E&P sangat terbuka. Keterbukaan ini juga sudah membudaya di perusahaan dengan adanya meeting staf yang rutin dilaksanakan setiap dua kali dalam setahun. Adapun kanal komunikasi lain yang digunakan departemennya antara lain intranet, generic e-mail/e-mail blast, majalah internal, dan management communication forum.
“Diving” dan “Tracking”
Dibalik sosoknya tadi, siapa yang mengira kalau Shanti adalah pencinta alam sejati. Di sela kesibukannya, ia selalu menyediakan waktu untuk melakukan kegiatan outdoor seperti diving dan tracking. Meski, ia merendah dengan mengatakan, masih pemula. Menurutnya, kedua aktivitas itu memberikan tantangan sekaligus ketenangan.
Shanti aktif melakukan kebiasaan barunya selepas anak-anaknya beranjak remaja. Suami pun memberi keleluasaan. “Kebetulan di perusahaan ada wadahnya, jadi saya ikutan. Eh, malah kesenangan,” katanya seraya tertawa. Terakhir, ia diving di Pulau Macan, Kepulauan Seribu dan tracking selama empat jam ke Baduy Dalam. rtn