Minum kopi sambil mendengarkan musik adalah hobi yang paling disukai Danasmoro. Kegiatan relaksasi itu sekaligus jadi kiatnya menajamkan kemampuan mendengarkan untuk memahami kebutuhan stakeholders.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Diskursus yang beberapa tahun terakhir menghangat soal humas harus menjadi unit strategis lebih dari sekadar “pemadam kebakaran”, telah mulai dijajaki Penelaah Teknis Kebijakan Biro Komunikasi dan Humas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Danasmoro Brahmantyo, kala mengawali karier di dunia komunikasi sebagai Koordinator Humas Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) Jakarta pada 2009.
“Saat itu kita tidak hanya mengurusi siaran pers atau pidato pimpinan, tetapi juga mem-branding kampus dan meningkatkan visibilitas di media,” kenangnya mengenai kerja-kerja yang bermuara pada citra dan reputasi positif itu dalam wawancara bersama HUMAS INDONESIA, Rabu (12/3/2025).
Kendati berlatar belakang Sarjana Administrasi Niaga, Danas membuktikan bahwa pendidikan formal tak selalu menjadi penentu utama dalam berkarier. Kemampuan mengembangkan diri sesuai kebutuhan zaman menjadi kunci, ungkap pria pencinta kuliner khas Jawa Timur ini. Perjalanan profesionalnya mencapai titik penting di tahun 2016, ketika ia mengemban amanah Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2015 sebagai Tenaga Humas Pemerintah Kementerian Komunikasi dan Informatika yang ditugaskan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Pernyataan itu ia landaskan karena merasa pengalaman yang sejatinya menjadikannya tangguh. Seperti ketika terlibat dalam pengelolaan krisis akibat kebijakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), Danas mengaku belajar banyak hal. Misalnya, tentang kebijakan publik yang tidak dapat memuaskan semua pihak.
Di situasi tersebut, terang pria kelahiran Surabaya itu, penting baginya untuk bisa membangun dasar yang kuat dalam mengomunikasikan sikap kementerian, sembari menelusuri pelbagai pendekatan guna menekankan bahwa terbitnya kebijakan bukan untuk berlawanan dengan masyarakat. “Sebagai humas kita juga harus bisa berhubungan dengan stakeholder, presentasi, dan lain sebagainya. Menurut saya itu datangnya dari pengalaman, nggak bisa cuma dari bangku kuliah saja,” ucapnya.
Tentang Mendengarkan
Bagi Danas, menjadi humas pemerintah artinya harus mampu menguasai substansi dari segala masalah. Sebab menurutnya, hanya dengan itu humas bisa menyampaikan pesan penting dalam bentuk yang mudah diterima. Adapun kemampuan komunikasi, imbuh penerima penghargaan Best Presenter dalam ajang Satu Dekade PR INDONESIA Awards (PRIA) 2025 itu, sejatinya berakar dari kesediaan mendengarkan.
Kesediaan mendengar itu pula yang pada akhirnya membuat Danas betah melakoni karier sebagai praktisi humas pemerintah. Meski praktik kerja sehari-hari penuh tantangan dan dinamika, bagi sulung dari tiga bersaudara ini, komunikasi sudah seperti seni tersendiri. Oleh karena itu, pria kelahiran 1984 ini selalu menyempatkan waktu untuk menikmati film atau musik sebagai sarana melatih kepekaan mendengar. “Membaca, nonton film, dan mendengarkan musik itu menurut saya penting banget untuk seorang humas,” katanya.
Meski merasa dunia kehumasan masih punya banyak area untuk dieksplorasi, saat ini penyuka musik tahun 1990-2000an itu lebih bermimpi untuk bisa kembali ke dunia akademis, walau bukan sebagai dosen. Sebelumnya, Danas sempat mengajar paruh waktu di Polimedia Jakarta usai merampungkan studi magisternya di Pascasarjana Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia (UI) pada 2014.
Inspirasinya untuk mengajar datang dari sang ibu yang berprofesi sebagai dosen. Lewat dunia akademis, Danas mengatakan, dirinya ingin membagikan pengalaman dan pengetahuannya mengenai kehumasan, sambil menjalani hidup sebaik mungkin, "live life to the fullest, and focus on the positive," tutupnya. (ARF)