Pandemi Covid-19 sepanjang tahun 2020 telah memberi dampak kepada hampir semua aspek kehidupan. Dampak ini tentu saja memengaruhi cara PR bekerja di tahun depan. Apa saja?
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Wakil ketua APPRI 2020 – 2023 Sari Soegondo merangkum sedikitnya ada lima hal yang bakal memengaruhi tren public relations (PR) 2021. Kelima hal itu meliputi perubahan iklim, pandemi COVID-19, pergeseran politik global, resesi ekonomi, dan post-truth.
Karena hal tersebut, memaksa para profesional komunikasi untuk menjadi pakar penanganan isu dan krisis. Kondisi ini akan menciptakan keseimbangan hubungan baru antara PR internal dengan konsultan PR. “Sepanjang tahun 2020, tidak sedikit perusahaan yang memilih untuk memutus kerja sama dengan konsultan PR karena perihal efisiensi. Kondisi ini mendesak PR internal untuk meningkatkan kapasitasnya,” ujar Sari.
Karena dorongan tersebut, praktisi PR termotivasi untuk belajar secara mandiri dengan mengikuti web seminar, kursus virtual, menghimpun berbagai tips untuk memperkaya, meningkatkan kompetensi, juga menambah ilmu baru.
Ke depan, kata Sari, praktisi PR harus mahir dalam hal anggaran (budgeting). Sebab, tuntutan untuk bisa membantu mengonversi capital expenditure (capex) menjadi opex operating expenditure (opex) terhadap PR makin tinggi. Antara lain, mengalihkan biaya modal perangkat keras dan sewa lokasi menjadi piranti lunak, aplikasi digital dan biaya langganan solusi.
Pandemi juga mendorong lahirnya perusahaan dan konsultan PR dengan wajah baru. Wajah baru yang mengedepankan bisnis sesuai etika bisnis, penuh empati, mengandung unsur filantrofi, dan menempatkan hubungan berkelanjutan dengan komunitas di atas segalanya.
Sementara bagi konsultan PR, ke depan, mereka akan bekerja jauh lebih fleksibel—di mana dan kapan saja. “Praktisi PR dapat bekerja plug and play,” ujarnya. Meski, bisnis PR tetap berpusat pada manusia, pertemuan tatap muka, curah pendapat, dan kerja sama tim. “Pandemi juga membuat agensi PR kebanjiran pekerjaan,” katanya, optimis.
Pengaruhnya Bagi Perusahaan
Lantas, apakah kelima hal tadi turut memengaruhi cara perusahaan bekerja? Sari menjawab, “Ya.” Lima hal tadi menuntut perusahaan untuk segera melakukan transformasi. Terutama, bertransformasi untuk melakukan praktik bisnis yang mengedepankan environmental, social dan corporate governance (ESG). Atau, akrab dikenal dengan istilah keberlanjutan (sustainability).
Lima hal tersebut juga akan memberikan tekanan yang makin kuat kepada perusahaan agar serius mengedepankan ESG. Sebab, ESG inilah yang akan mendukung perusahaan memiliki reputasi yang baik.
Selain itu, kata Sari, pada tahun 2021 dan seterusnya, korporasi/organisasi harus memiliki kematangan komunikasi yang selaras antara pemimpin, komunikator, dengan seluruh staf. “Pandemi telah memberikan kesadaran kepada kita semua untuk membangun hubungan dengan staf dan mitra kerja,” ujarnya. “Untuk itu, dibutuhkan narasi dan sikap internal yang positif secara terus-menerus,” imbuhnya.
Tim komunikasi juga diprediksi lebih erat bekerja sama dengan tim SDM. Dan, perusahaan makin sadar pentingnya membentuk serta membina komunitas, khususnya secara daring.
Kaya Data
Tahun depan, perempuan yang merupakan co-founder dan CEO ID Comm itu melanjutkan, PR akan memanfaatkan search engine optimization (SEO) untuk manajemen isu sebagai upaya membangun strategi komunikasi krisis yang proaktif. “SEO tak lagi digunakan hanya untuk keperluan pemasaran, namun juga menempatkan konten-konten PR di urutan teratas,” ujar Sari.
Prediksi berikutnya adalah, 2021 merupakan masa yang sangat kaya dengan data. Hal ini mengingat hampir semua orang di masa pandemi memanfaatkan teknologi untuk berkomunikasi dan bertukar informasi. “Kondisi ini akan memberikan akses tak terbatas, pengalaman nyata, dan peningkatan visibilitas bagi perusahaan,” imbuhnya.
Lainnya yang sudah dialami oleh seluruh umat manusia semenjak pandemi adalah menjamurnya kegiatan daring. Ke depan, hal serupa akan semakin sering terjadi. “Oleh karena itu, pengalaman virtual menjadi utama dan penting,” tutup Sari. (rvh)