Selain sebagai garda terdepan penyalur informasi, pewarta adalah salah satu kelompok yang paling rentan tertular selama masa pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) ini. Seperti apa kisah mereka?
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Sejak Presiden Jokowi memberi imbauan untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah, masih banyak pekerja yang mengharuskan mereka bekerja di luar. Tak terkecuali jurnalis. Lalu bagaimana kiat mereka?
Ikatan Pranata Humas Indonesia (IPRAHUMAS) mengundang para pewarta tersebut di program Ngopi IPRAHUMAS Vol. 2 bertajuk “Jurnalisme di Tengah Pandemi”. Mereka adalah pembawa berita CNN Indonesia Alfian Rahardjo dan jurnalis Media Indonesia Andhika Prasetyo. Adapun sesi gelar wicara yang bekerja sama dengan PR INDONESIA selaku media partner ini berlangsung secara daring, Kamis (23/4/2020).
Menurut Andhika, pewarta termasuk salah satu profesi yang tidak bisa sepenuhnya menerapkan anjuran pemerintah, bekerja dari rumah. Mereka bahkan masih aktif bekerja di lapangan pasca Presiden RI Joko Widodo mengumumkan pasien positif Covid-19 pertama di Indonesia. “Kami baru benar-benar diminta untuk bekerja dari rumah ketika Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dinyatakan positif Covid-19,” kata pria yang aktif meliput di Istana Presiden ini.
Otomatis mereka harus melakukan adaptasi. Rapat redaksi untuk menentukan isu esok hari, misalnya, dilakukan secara daring. Pun dengan wawancara dan liputan. Sebagai bagian dari bentuk dukungan memutus rantai wabah Covid-19, selama pandemi ini, Media Indonesia mengedepankan informasi positif. Mereka juga rutin mengingatkan audiens agar memerhatikan protokol kesehatan dan memberikan porsi yang lebih besar untuk iklan layanan masyarakat tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Alfian dari CNN Indonesia merasakan hal serupa. Selama pandemi ini, perubahan yang paling terasa adalah perbedaan jadwal kerja. Jika awalnya mereka wajib masuk kantor selama lima hari dalam seminggu, kini lebih banyak bekerja dari rumah dan memberlakukan sistem shifting. News room terbagi jadi dua shift. Jumlah karyawan yang terlibat pun dikurangi. Beberapa program ditiadakan seperti CNN Indonesia Sport karena kompetisi olahraga di dalam dan luar negeri selama pandemi ditiadakan atau ditunda. Waktu siar pun hanya dari pukul 7.30 hingga 22.00 WIB. Sementara rapat dan wawancara dilakukan secara virtual dengan memanfaatkan Zoom, Jitsi Meet, maupun Google Meet.
Untuk jurnalis yang harus turun ke lapangan, mereka juga mengedepankan faktor keamanan. Mulai dari menggunakan masker saat liputan. Sementara antarpembawa acara diberi jarak 1,5 – 2 meter.
Terbuka
Kepada para praktisi humas pemerintah yang menjadi peserta gelar wicara ini, mereka berpesan agar memberikan informasi secara terbuka kepada masyarakat. “Tujuannya bukan untuk memberikan rasa takut, tapi untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat,” kata Alfian.
Mereka juga berharap agar pemerintah meminimalisasi adanya perbedaan pernyataan antarpejabat dan pernyataan yang menuai kontroversi yang akhirnya membuat masyarakat bingung. “Kami melihat masih ada egosentris antarkementerian. Di masa pandemi ini, kondisi seperti ini harus ditekan sedemikian rupa,” kata Alfian.
Mereka pun sepakat mendorong pemerintah untuk membuat narasi tunggal. “Seharusnya ada kerja sama antarinstansi agar informasi yang dikeluarkan hanya bersumber dari satu pintu dan satu suara,” ujar Andhika, menambahkan.
Sementara itu, Alfian menyoroti pentingnya validitas berita untuk mengurangi hoaks yang marak selama pandemi. Salah satunya, dalam menyampaikan informasi sebaiknya didukung oleh pendapat para ahli. Sehingga, berita yang disampaikan ke publik tidak hanya berdasarkan opini. (rvh)