“Kutukan Humas”
PRINDONESIA.CO | Rabu, 25/03/2020 | 1.336
“Kutukan Humas”
Dalam persepsi saya informasi yang bersumber dari PR klise
Dok. Istimewa

Oleh: Mochammad Husni, Penerima Program Fellowship PR INDONESIA 2016 - 2017 dan Public Relations PT Astra Agro Lestari Tbk.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Dalam persepsi saya dan teman-teman jurnalis kala itu, informasi apapun yang bersumber dari humas/public relations (PR) adalah informasi klise. Alhasil kami keukeuh mengejar keterangan dari direksi. Bahkan kalimat “no comment” yang terlontar dari direksi, masih jauh lebih bernilai dibanding wawancara panjang lebar dengan humas. Bos-bos redaksi pun seolah hanya menghargai perjuangan reporter manakala berhasil membawa pulang komentar dari direksi.

Sekarang persepsi jurnalis mulai berubah. Kesadaran tentang peran dan posisi strategis PR di kalangan jurnalis sudah semakin tinggi. PR menjadi elemen penting dalam pembentukan citra dan reputasi institusi. Tidak jarang kita juga mendapati sebuah institusi yang menempatkan PR sebagai satu-satunya pintu informasi. Baik informasi dari luar ke dalam, maupun sebaliknya. Jurnalis kini tidak ragu lagi mengutip komentar PR.

Meski begitu, “kutukan humas” belum benar-benar hilang. Apresiasi positif awak jurnalis kepada PR hanya berlaku jika sosok PR tersebut punya peran dan posisi strategis di institusinya. Sedangkan PR yang belum strategis tidak terlalu dianggap oleh jurnalis. Akibatnya si PR semacam ini gagal meringankan beban manajemen dalam memberikan informasi dan keterangan yang tepat kepada publik.

Setidaknya ada tiga syarat yang harus dimiliki seorang PR agar posisi dan perannya strategis. Pertama, memiliki pengetahuan dan sumber informasi mengenai konten dan konteks institusinya. Seorang PR wajib secara terus-menerus meng-up grade dirinya sendiri. Juga wajib membangun komunikasi internal sekokoh mungkin. Mengapa? Supaya setiap perubahan dan kondisi yang berlangsung di dalam institusi dapat ia ketahui dengan baik.

Bukan bermaksud menggantikan otoritas pejabat yang paling berwenang, tapi syarat tersebut membuat PR terhindar dari penggunaan informasi dan keterangan yang kurang tepat saat berinteraksi dengan jurnalis. Sehingga, jurnalis tetap menemukan value yang tinggi dari sebuah informasi.

Jangan Jauhi Jurnalis

Di sisi lain, dengan memahami konten dan konteks, PR juga dapat memilah mana informasi yang bagus untuk dikonsumsi publik dan mana yang tidak. Hanya kepada sosok PR yang memahami konten dan konteks serta memiliki kemampuan komunikasi mumpuni, perusahaan dapat mendelegasikan urusan komunikasi internal maupun eksternalnya.

Kedua, memperkuat jejaring untuk mengumpulkan informasi dan suara-suara publik. Idealnya, seorang PR memang bukan semata-mata pintu keluarnya informasi dari dalam institusi ke publik. Dengan kemampuan mengumpulkan informasi dari luar (dari masyarakat atau jurnalis), PR juga bisa memberi masukan-masukan berharga kepada manajemen.

Ketiga, jika seorang PR sudah mendapat posisi dan peran strategis, maka ia dilarang bersikap acuh terhadap jurnalis. Apalagi seorang PR menempatkan diri layaknya pejabat yang levelnya berada di atas jurnalis.  Saat seorang PR sudah mencapai peran dan posisi strategis, maka level hubungan dengan awak media justru harus semakin ditingkatkan. Tidak hanya dalam makna fisik, hubungan seorang PR harus benar-benar bisa menyentuh sisi emosional mereka. Hubungan semacam ini akan menghindarkan seorang jurnalis dari kekeliruan dalam bersikap dan berinteraksi

Lewat hubungan baik dengan kalangan PR, rekan-rekan jurnalis dapat mengemas informasi yang tepat. Tepat menurut kacamata perusahaan, tepat juga tepat sesuai kebutuhan media. Pada akhirnya “kutukan humas” pun hilang, berubah menjadi “berkah humas”.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI